Kamis, 10 Februari 2011

Kabupaten Sumba Tengah



Kabupaten Sumba Tengah merupakan salah satu dari 21 Kabupaten yang ada di dalam wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan ibukota kabupaten yaitu Waibakul.


GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI

Pulau Sumba terletak di barat daya Propinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya berjarak sekitar 96 km di sebelah selatan Pulau Flores, 295 km di sebelah barat daya Pulau Timor dan 1.125 km di sebelah barat laut Darwin Australia. Pulau ini berada pada busur luar kepulauan Nusa Tenggara, dan pada busur tersebut Pulau Sumba terletak antara Pulau Sumbawa dan Pulau Timor. Secara astronomis Kabupaten Sumba Tengah membentang antara 119°24’56,26” – 120° 50″55,29” BT dan 9°20’38,31” LS – 9°50’38,86” LS. Luas Kabupaten Sumba Tengah adalah 1.869,18 km2.

Batas wilayah Kabupaten Sumba Tengah adalah :
1. Sebelah Utara : Selat Sumba
2. Sebelah Selatan : Samudera Indonesia
3. Sebelah Barat : Kabupaten Sumba Barat
4. Sebelah Timur : Kabupaten Sumba Timur


Kabupaten Sumba Tengah terbagi atas 5 kecamatan dan 43 desa. 5 kecamatan di Kabupaten Sumba Tengah yaitu :

1. Kecamatan Mamboro dengan ibukota Mananga.
2. Kecamatan Katikutana dengan ibukota Waibakul.
3. Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat dengan ibukota Rita.
4. Kecamatan Umbu Ratu Nggay dengan ibukota Lendi Wacu.
5. Kecamatan Katikutana Selatan.

TOPOGRAFI

Wilayah ini memiliki keunikan meskipun diliputi oleh kegersangan dengan curah hujan yang kurang, akan tetapi memiliki sungai-sungai maupun sumber-sumber mata air yang cukup. Sungai yang melewati wilayah Kabupaten Sumba Tengah adalah Bewi dan Pamalar. Dilihat dari aspek rona fisik tanah, wilayah dengan kemiringan lebih kecil dari 400 meliputi 38% sedangkan wilayah >400 meliputi 62%. Wilayah dengan ketinggian kurang dari atau sama dengan 500m dari permukaan laut yakni seluas 49 % dan lebih besar dari 500m sebesar 51% dari seluruh luas wilayah di Kabupaten Sumba Tengah.

IKLIM

Seperti halnya di tempat lain di Indonesia, di Kabupaten Sumba Tengah dan Propinsi Nusa Tenggara Timur hanya dikenal 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Pada bulan Juni sampai dengan September arus angin berasal dari Australia dan tidak banyak mengandung uap air sehingga mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret arus angin banyak mengandung uap air yang berasal dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Keadaan seperti ini berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan pada bulan April-Mei dan Oktober-Nopember. Walaupun demikian, mengingat Sumba Tengah dan umumnya NTT dekat dengan Australia, arus angin yang banyak mengandung uap air dari Asia dan Samudera Pasifik sampai di wilayah sudah berkurang yang mengakibatkan hari hujan di Sumba Tengah lebih sedikit dibandingkan dengan wilayah yang lebih dekat dengan Asia. Hal ini menjadikan Sumba Tengah sebagai wilayah yang tergolong kering di mana hanya 4 bulan (Januari sampai dengan Maret dan Desember) yang keadaannya relatif basah dan 8 bulan sisanya relatif kering (Sumba Tengah Dalam Angka,2007).

Sumber :
http://www.petantt.com/kabupaten-sumba-tengah/


Sumba Tengah Selatan 

Kawasan Sumba Tengah-Selatan memiliki wilayah yang sulit dilalui dengan sarana transportasi. Walaupun tersedia angkutan umum bus dari Waingapu ke Tarimbang dan truk ke Praingkareha, namun wisatawan memerlukan kendaraan jip untuk menelusuri wilayah ini. Tarimbang merupakan desa yang memiliki kawasan pantai yang bagus untu kegiatan selancar.

Di dekat desa Praingkareha terdapat air terjun yang sangat indah setinggi 100 m yang dinamakan Air Terjun Laputi di maria terdapat kolam yang menyenangkan di bawahnya. Lokasi air terjun berada sekitar 3 km dari desa tersebut. Di desa Lumbung yang terletak di Timur Laut Praingkareha juga terdapat air terjun yang sangat indah setinggi 25 m. Walaupun air terjun ini tidak terlalu tinggi namun volume air yang jatuh sangat besar dan sangat jernih.

Waingapu merupakan kota terbesar di Sumba dan merupakan pintu masuk utama ke pulau ini. Kota ini telah menjadi pusat pemerintahan sejak tentara Belanda menduduki wilayah ini pada tahun 1906.

Kota ini telah lama menjadi kawasan perdagangan yang diawasi oleh sejumlah kerajaan kecil yang berada kawasan pesisir. Para pedagang dari Bima, Makassar dan Ende banyak yang datang membawa kain dan barang-barang logam untuk ditukarkan dengan kuda dan kayu asal daerah ini.

Para pedagang kain tenun ikat dapat dijumpai dengan mudah di Waingapu; mereka bahkan menjajakan barang dagangannya di depan beberapa penginapan yang terdapat di kota ini. Salah satu pusat pembuatan tenun ikat di dekat Waingapu terdapat di Prailiu yang dapat dicapai dengan angkutan umum.

Sejumlah desa tradisional yang berada di wilayah Sumba Timur dapat dikunjungi wisatawan dari Waingapu. Wilayah Sumba Timur merelokasi pemakaman batu leluhur orang Sumba dengan bentuknya mengesankan.

Selain itu wilayah ini juga memiliki pusat kerajinan tenun ikat. Masyaraka desa di wilayah ini ternyata telah terbiasa menerima kedatanga wisatawan; hal ini terlihat bahwa di setiap desa tersedia buku tamu yang harus diisi pengunjung.

Desa pantai lainnya adalah Pero dengan panorama pantainya yang sangat indah. Lokasi ini terletak hanya beberapa kilometer dari Bondokodi. Dari sini wisatawan dapat mengunjungi salah satu desa tradisional di Ratenggaro. Pemandangan dari Ratenggaro ke arah pantai sangatlah indah.

Dari ketinggian lokasi ini terlihat pohon kelapa berjejer di sepanjang pantai dan di kejauhan terlihat atap-atap rumah adat desa Wainyapu berada di seberang sungai. Wisatawan dapat mendatangi Wainyapu dengan cara menyeberangi sungai pada saat air surut.

Praiyawang yang terletak sekitar 69 km di Tenggara Waingapu atau tujuh kilometer di Selatan Melolo merupakan kawasan desa tradisional yang memiliki rumah adat dan juga makam batu leluhur yang mengesankan.

Makam batu terbesar di tempat ini terdiri atas empat tiang batu besar setinggi 2 m yang menopang potongan batu lainnya sepanjang 5 m, lebar 2,5 m dan tebal 1 m di mana di atasnya terdapat potongan batu yang lebih kecil yang diukir bentuk-bentuk manusia dan hewan. Di depan makam Batu ini terdapat beberapa rumah adat Sumba.

Sekitar 4 km di Barat Laut Melolo, desa Umabara dan Pau juga memiliki pemukiman dengan rumah-rumah adatnya makam Bantu dan tenun ikat. Desa Ngalu dan Kaliuda di wilayah Mangili disebut-sebut sebagai penghasil kain tenun ikat terbaik di Indonesia yang kaya akan warna-warna alami. Namun harganya sangat mahal.



Sumber :
Buku Informasi Pariwisata Nusantara Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia , dalam :
http://fatawisata.com/nusa-tenggara-timur/1155-sumba-tengah-selatan 


Sumber Gambar:
http://www.petantt.com/kabupaten-sumba-tengah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar