Kamis, 10 Februari 2011

Menelusuri Potensi Wisata di Pulau Sumba

Oleh Adrianus Rianghepat

PULAU Sumba, salah satu dari gugusan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, berada pada busur luar kepulauan Nusa Tenggara, antara Pulau Sumbawa dan Pulau Timor.

Lebih tepatnya lagi, pulau yang merupakan salah satu wilayah kerajaan Majapahit pada abad ke XIV dan saat ini telah memiliki empat daerah otonom itu, terletak persis di barat daya provinsi NTT.


Lihat Peta Lebih BesarTepatnya berjarak sekitar 96 km di sebelah selatan Pulau Flores, 295 km di sebelah barat daya Pulau Timor dan 1.125 km di sebelah barat laut Darwin Australia.

Pulau yang terkenal dengan pohon cendana pada abad ke-18 ini, telah memancing orang Belanda untuk datang dan mulai mendudukinya pada tahun 1906 itu. Selain karena Pulau Sumba memiliki sejumlah panorama dan potensi wisata, yaitu wisata bahari, wisata budaya serta wisata atraktif.


“Kami memiliki sejumlah pesona wisata di antaranya, pesona wisata bahari, wisata budaya serta wisata atraktif,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Antonius Umbu Zaza.

Ia mengatakan untuk wisata bahari, Kabupaten SBD yang baru mekar pada tahun 2007 silam dari Kabupaten Sumba Barat sebagai kabupaten induknya tersebut, memiliki sejumlah lokasi pantai yaitu, pantai Mananga Aba, pantai Weekurri di Kecamatan Kodi Utara yang cocok untuk selancar angin dan ski air.

Ada pantai Rate Garo di Kecamatan Kodi Bangedo, dengan hamparan pasir putih yang luas serta dihiasi sejumlah kuburan tua berbentuk menhir bak zaman megalitik, serta danau laut Mandorat di Kecamatan Kodi Utara.

Ia menjelaskan pantai Mananga Aba, menawarkan bentangan garis pantai sepanjang 10 km dengan hamparan pasir putih yang bersih serta jernihnya air laut.

Bukan hanya itu, pantai yang berada di bagian utara Kecamatan Loura, dengan menempuh 30 menit menggunakan kendaraan bermotor itu, juga menawarkan pesona indahnya kemilau jingga matahari yang hendak redup di kala senja.

Untuk wisata budaya, terdapat sejumlah perkampungan situs, dimana masyarakat yang mendiami kampung adat tersebut dipagari dengan tataan rapih bebatuan di atas puncak perbukitan berbentuk lingkaran.

Di dalam kampung budaya itu juga kata Umbu Zaza, dilengkapi dengan jajaran kemegahan batu kubur megalitik yang terkesan angker namun sakral, dan merupakan sumber keyakinan penganut merapu, yang meyakini bahwa rumah adat dan kubur batu merupakan simbol kehidupan dan kematian.

Dijelaskannya, merapu adalah suatu kepercayaan yang pada hakekatnya, manusia akan mengalami kematian sebagai akhir kehidupan dunia nyata dan beralih kepada dunia yang tidak nyata atau merapu atau dunia arwah.

“Dalam kehidupan tidak nyata inilah, manusia masih terus berhubungan dengan manusia yang hidup melalui ritual adat,” kata Umbu Zasa.

Khusus di wilayah Sumba Barat Daya, kata dia, tercatat 11 perkampungan situs, di antaranya, situs Wainyapu di Kecamatan Kodi Bangedo, dengan jarak sekitar 45 km arah barat Kota Tambolaka.

Untuk wisata atraktif, dia menyebut Pasola, sebuah permainan rakyat yang berisiko, dengan masing-masing orang menunggang kudanya dan saling menghajar dan melempar dengan kayu (sola) dengan keras ke arah tubuh lawannya.

“Jika ada yang cidera bahkan hingga tewas pun, tidak ada yang dipersoalkan apalagi diperkarakan, karena dinilai sebagai tanda kesuburan dan kesejahteraan atau berkah dari sang maha dewi,” kata dia.



Pelaksanaan pasola, lanjut dia, selalu dibarengi dengan kemunculan Nyale (cacing laut), yang menurut kepercayaan, jika munculnya dalam jumlah banyak dan bersih, pertanda hasil panen yang akan dilakukan pada tahun itu akan berlimpah.
Pasola, dilaksanakan pada bulan Februari atau Maret, yang ditetapkan oleh Rato adat (imam atau kepala suku), berdasarkan perhitungan bulan purnama.

Wisata atraktif lainnya, adalah ritual kematian dengan seremoni kepercayaan merapu, dimana seorang yang meninggal dikremasi dan dibungkus dengan kain hasil tenunan dan disemayamkan beberapa hari dengan cara didudukkan, sebelum dikuburkan dalam kubur batu megalitik.

Seremoni penguburan, disertai pembantaian sejumlah hewan (kerbau dan babi) dalam jumlah banyak, setara dengan strata sosial orang yang meninggal tersebut.

Sejumlah pesona wisata bahari, budaya dan atraktif termasuk tarian adat ini, hampir merata di tiga kabupaten lainnya, masing-masing Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur yang tentunya telah dipengaruhi oleh perkembangan zaman kekinian yang terjadi.


Pergeseran budaya

Seiring degan perkembangan zaman di era modernisasi saat ini, telah banyak memberikan pengaruh terhadap cara serta pola hidup masyarakat merapu di pulau Sumba.

Semakin ke arah timur pulau tersebut, pengaruh modernisasi terhadap budaya juga semakin kuat dan nampak.

Sebagai contoh, rumah-rumah adat kepercayaan merapu berarsitektur menjulang menggunakan atap alang-alang dengan tiga lapisan, masing-masing bagian bawah untuk hewan, tengah untuk manusia dan atas untuk lumbung makanan serta barang-barang berharga, mulai berubah.

Ditemukan sejumlah rumah menjulang berarsitektur rumah khas adat Sumba di Kabupaten Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Timur, yang semestinya menggunakan atap alang-alang, tetapi sudah menggunakan atap seng dan berdinding papan berpelitur, yang semestinya hanya dengan belahan bambu hutan.

“Karena di zaman ini masyarakat kesulitan mendapatkan alang-alang untuk mengganti atap yang sudah rusak, maka digunakan seng sebagai penggantinya,” kata Sekda Sumba Tengah Umbu Puda.

Selain itu, kata dia, semua ritual adat yang dulunya selalu menggunakan puluhan ekor hewan (kerbau dan babi) yang dibantai untuk dimakan bersama, juga sudah mengalami pengurangan yaitu hanya tiga ekor saja, dengan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah otonomi, demi penghematan.

Semakin ke wilayah timur di Kabupaten Sumba Timur, tidak lagi ditemukan hamparan kampung adat yang memiliki jajaran pekuburan megalitik.

Perkampungan adat yang memiliki nilai sejarah di Kabupaten Sumba Timur dan pekuburan megalitik mulai bergeser ke pedalaman.

Bahkan di Kabupaten Sumba Timur sudah terlihat lokasi kuburan umum, layaknya di daerah lain dan tidak ada di tiga kabupaten lainnya, yaitu di Sumba Barat Daya, Sumba Barat dan Sumba Tengah.

Di Kabupaten Sumba Timur, tidak lagi mengenal wisata atraktif pasola sebagaimana yang masih ada di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Sumba Barat.

“Kami di sini hanya mengenal pacuan kuda,” kata Bupati Sumba Timur Gidion Mblijora.

Yang unik di Sumba Timur, khususnya di kampung adat Prai Yawang ialah budaya kremasi jenazah yang meninggal hingga bertahun-tahun hanya dengan ramuan bunga serta bungkusan kain hasil tenunan tanpa menyebar bau mayat, sebelum mendapatkan kata sepakat dari keluarga besar untuk dikebumikan dalam kubur batu megalitik.

“Jika keluarga besar belum memiliki kesempatan untuk duduk bersama menentukan waktu penguburan kerabat yang meninggal, maka jenazah tetap disimpan dalam rumah dengan posisi duduk,” kata Rambu Ana Intan.

Untuk menghindari bau dari jenazah yang akan dibiarkan selama bertahun-tahun sebelum dikuburkan, secara ritual adat, jenazah dimandikan dengan sebuah bunga yang disebut bunga Walahanggi.

Pasca dimandikan dan jenazah dipakaikan pakaiannya, bagian tempat duduk jenazah berbentuk kotak yang pinggirannya dibuat dengan kulit kerbau, ditaburi kembang yang sama yang sudah dihaluskan, sebelum jenazah didudukkan di atasnya.

“Itulah yang membuat jenazah tetap awet dan tidak bau, disamping keluarga terus melakukan pembalutan dengan kain adat setiap bulannya selama belum dikubur,” kata dia.

Yang meninggal kata dia, terus dijaga oleh warga yang ditunjuk dan terus diberikan makan tiga kali sehari, pada saat orang hidup melakukannya.

“Jadi di setiap jam makan orang hidup, bagian orang yang meninggal disisihkan dan ditaruh di dekat jenazahnya,” kata Rambu Ana Intan.


Perlu perbaikan infrastruktur

Berbagai fasilitas mulai dibangun di seluruh kabupaten di pulau Sandalwood (kayu cendana) itu, seperti pelabuhan, akses jalan ke lokasi wisata, hotel dan restoran, sarana lain pendukung di lokasi wisata serta keamanannya.

“Pembangunan di sektor lain terus kita lakukan, pembangunan dan perhatian untuk perbaikan infrastruktur ke lokasi wisata juga menjadi perhatian serius,” kata Sekda Sumba Barat Daya Antonius Umbu Zaza.

Menurut dia potensi pariwisata wilayahnya bisa menjadi peluang bagi pemasukan dan pertumbuhan PAD di daerah yang baru mekar tersebut, sehingga pembangunan infrastruktur khusus jalan ke lokasi wisata terus dilakukan setiap tahunnya.

Hal yang sama diakui oleh kepala daerah di tiga kabupaten lainnya.

“Pariwisata adalah merupakan primadona pelaksanaan pembangunan di daerah ini. Karena itu kita sedang dorong percepatan pembangunan infrastruktur untuk bisa memudahkan akses kepariwisataan di daerah ini,” kata Bupati Sumba Timur Gidion Mblijora.

Selain itu, keamanan juga terus ditingkatkan, untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung ke setiap obyek wisata yang ada.

“Saya jamin keamanan di Sumba Timur sangat kondusif, sehingga bisa mendukung pariwisata di daerah ini,” kata Kapolres Sumba Timur AKBP IMD Giri.

Menurut dia, semakin kondusifnya keamanan dan ketertiban di ujung timur pulau Sumba tersebut, karena kesadaran masyarakat sudah mulai tinggi terhadap pentingnya kehidupan yang aman dan damai di daerah tersebut.

Dengan sejumlah sentuhan infrastruktur dan peningkatan kualitas keamanan di pulau Sumba yang kian baik dan kondusif, diharapkan bisa menjadi tambahan daya tarik para penikmat wisata bahari, budaya dan atraktif di Sumba untuk berbondong-bondong ke pulau tersebut.

Dengan begitu upaya pemerintah Provinsi NTT untuk menggelar Visit Flobamora Year 2011, dengan mendatangkan 1.000 orang wisatawan ke NTT, bisa terlaksana.ant

Sumber :
http://liranews.com/pariwisata/2010/10/26/menelusuri-potensi-wisata-di-pulau-sumba/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar