Jumat, 11 Februari 2011

Melancong ke Timor Tengah Selatan

Siapa tak kenal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), negeri berjuluk “bumi cendana”? Panorama alamnya yang indah dan wisata budayanya yang khas dan memikat. Kehidupan masyarakat tradisional penganut animis di Desa Boti merupakan obyek wisata budaya paling menarik di seluruh pulau Timor.


Boti selama ini tetap memancing minat para turis asing untuk melihat dari dekat segi kehidupan masyarakat tradisional di pedalaman Timor Tengah Selatan. Daya pikat Boti terletak pada budaya masyarakat suku Timor yang masih asli dan tetap dipertahankan sampai sekarang. Ciri para lelaki dewasa penganut animis rambutnya dikonde, layaknya perempuan. Seluruh aspek kehidupan masyarakat penganut animis ini juga diatur dengan upacara adat.


Warga penganut animis yang dalam bahasa Dawan (Timor) disebut atoin mes okan, tetap melestarikan peninggalan budaya para leluhurnya sampai sekarang. Mereka menganut semangat swadeshi, tak mengenal busana toko seperti lazimnya masyarakat modern di pulau Timor. Busana (baju, selimut dan sarung) yang mereka terbuat dari kapas asli. Mereka menanam kapas, memanen, memintal, ikat motif, pewarnaan dan menenun. Untuk mendapatkan sehelai sarung atau selimut membutuhkan waktu berbulan-bulan. Karena motifnya yang khas Boti, harganya pun melangit, di atas satu juta rupiah.

Setelah dari desa Boti, satu lagi keelokan alam yang amat langka yaitu Kawasan Desa Fatumnasi, di ketinggian 1.150 meter di atas permukaan laut. Berjarak hanya 35 km dari SoE, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tak hanya dalam makna kata, Fatumnasi sungguh menyajikan atraksi panorama alam pegunungan yang menggoda. Berbukit-bukit batu yang amat tua usianya, membentuk formasi indah yang sulit terkatakan. Mendebarkan hati. Ada sekelompok batu tua yang berbentuk candi; Fatu Kolen, Fatu Taapan, Fatu Naususu. Tidak sekadar tua, bongkahan batu raksasa itu memiliki nilai ekonomis.

Perjalanan makin membius penuh pesona, saat perjalanan diteruskan memasuki Taman Wisata dan Hutan Lindung. Dipenuhi pepohonan eukaliptus erophila (ampupu), bonsai alam yang berusia ratusan tahun dan padang rumput bagai karpet hijau di dalam kawasan Cagar Alam Gunung Mutis. Sungguh tempat ini amat indah.Sangat cocok untuk untuk lokasi syuting film laga atau sinetron yang bertema roman. Mungkin saja tak ada satu tempat pun di Nusantara ini, seperti Fatumnasi dan Mutis.

Banyak pelancong asing dan domestik yang datang berujar, dalam hidup sekali ini, kita mesti berkunjung ke hutan Cagar Alam Hutan Mutis. Bila di perkotaan anda mendapatkan pohon bonsai, budidaya pohon-pohon besar yang dipaksa tumbuh kerdil, maka di Fatumnasi anda akan menemukan pohon-pohon bonsai alam berusia ratusan tahun. Begitu tinggi nilainya sehingga dilindungi.

Di ujung cakrawala pesona, Gunung Mutis, gunung tertinggi di pulau Timor, 2.247 meter, akan menyapa mata para pelancong asing dan domestik. Anda tidak perlu takut kemalaman karena bisa bermalam di Fatumnasi. Di sana sudah tersedia home stay dengan perlengkapan standar. Pengalaman menginap di Fatumnasi pastilah sulit dilupakan.

Obyek lain di sekitar kawasan hutan ini adalah Gua Kelelawar dan Benteng Dua Putri. Di Fatumnasi Anda akan dipandu seorang guide lokal yang siap memberikan berbagfai informasi tentang beragam keunikan alam di kawasan wisata Fatumnasi termasuk kehidupan masyarakat suku Timor di kaki Gunung Mutis.

Banyak orang belum tahu letak kawasan wisata andalan di Timor Tengah Selatan ini. Padahal, kawasan wisata ini sudah sangat familiar di kalangan peneliti asing seperti Australia dan Belanda. Tapi di mana letak sesungguhnya kawasan cagar alam Gunung Mutis? Secara geografis, cagar alam Gunung Mutis terletak di wilayah Kecamatan Fatumnasi, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Kawasan ini berjarak sekitar 145 km sebelah Timur Laut kota Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini memiliki luas sekitar 12.000 hektare. Untuk mencapai Mutis perjalanan dimulai dari Kota Kupang menuju SoE, ibu kota Timor Tengah Selatan. Jarak tempuh dengan bus lebih kurang 3 jam.

Dari SoE, perjalanan dilanjutkan dengan menumpang angkutan kota menuju Kapan kemudian terus ke Fatumnasi. Perjalanan sejauh 15 km ke Fatumnasi itu memakan waktu 45 menit. Saat memasuki Fatumnasi para wisatwan akan disuguhi pemandangan nan indah dan keramahtamahan penduduk desa yang kebanyakan suku Dawan. Sebagian besar penduduk masih mengenakan sarung atau kain tenun yang masih menempel di badannya. Maklum, cuaca di sekitar kawasan wisata ini sangat dingin. Awan putih masih bisa dilihat merayap di atas tanah dalam jarak 10-15 meter. Kondisi ini sering membuat penduduk dan juga wisatawan tak mau melepaskan kain sarung. Keramahtamahan penduduk justru membuat setiap pengunjung akan cepat akrab dan terlibat dalam dialog mengasyikkan meski dalam bahasa Indonesia dengan aksen bahasa Dawan yang kental.

Siapapun bakal dibuat terkagum-kagum saat memasuki kawasan wisata cagar alam Gunung Mutis dan menyaksikan dari dekat. Alamnya nan indah menjadi suguhan utama. Dahan dan ranting pohon-pohon besar di dalamnya “berbuah sarat” dan menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat sekitar. Ini beralasan karena setiap dahan dan ranting dipenuhi madu hutan yang sudah menjadi milik setiap suku yang bermukim di sekitarnya.

Dari madu hutan ini masyarakat bisa berharap banyak untuk menopang kehidupan ekonominya selain dari hasil ternak dan pertanian. Senyum manis gadis hitam manis tanah Timor di kaki Mutis itu bakal menjadi pelepas penat Anda di tengah kepungan udara dingin Gunung Mutis. Dan bukan tidak mungkin, Anda membawa pulang pengalaman yang tak terlupakan dari bumi cendana itu.

Obyek wisata lain yang tak kalah menarik adalah Air Terjun Oehala yang sangat menakjubkan. Kesejukan adalah pesona pertama di bawah pohon rindang atau juga dapat berteduh di bawah lopo-lopo beratap rumbia, sembari menikmati desiran air yang meluncur amat bebas dari air terjun bertingkat tujuh. Begitu kencangnya guyuran air sehingga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air.

Bagi pencinta wisata sejarah, jangan melewatkan Ajaobaki yang merupakan jantung bekas Kerajaan Mollo masa lalu tempat Raja Oematan bertahta. Sisa kebesaran masa lalu masih tertinggal, sebuah bangunan Sonaf (istana) Raja Oematan masih berdiri dengan megahnya.

Sejalan dengan perjalanan ke Ajaobaki, ada daerah yang sayang untuk dilewatkan juga, yaitu Bola Palelo. Panorama alam lembah. Di sinilah mini Grand Canyon yang terkenal itu seolah tergambar. Begitu besarnya kuasa Tuhan menggores keindahan alam yang menakjubkan.

Obyek wisata menarik lainnya yang tak boleh dilewatkan adalah Kolbano, di pantai selatan, berjarak 80 km dari SoE. Tempat ini menyajikan panorama alam pantai yang masih alami dengan hamparan pasir putih, dan hamparan batu kerikil beribu warna. Di pantai Kolbano dapat disaksikan aktivitas ratusan perajin batu warna berjemur di terik matahari mengumpulkan batu-batu warna itu untuk diekspor ke Taiwan dan Singapura. Di pantai Kolbano juga dapat disaksikan sebuah monumen bersejarah sebagai bukti perlawanan rakyat Kolbano dalam perjuangan fisik melawan penjajah Belanda pada 1907.

Sementara pantai Oetune, berjarak 70 km dari SoE, punya daya tarik tersendiri karena memiliki gulungan ombak empat lipatan yang memancing para turis berselancar sambil berjemur di pantai pasir putih.

Bagi mereka yang berminat dengan alam asli pedalaman asli Timor Tengah Selatan, Kampung Tetaf/None yang berjarak 22 km arah timur kota SoEadalah tujuan yang tepat. Di sini Anda dapat menyaksikan semuanya dari dekat, misalnya rumah adat Timor— ume kbubu (rumah bulat) yang unik. Atraksi budaya daerah khusus seperti upacara adat, tarian adat, tarian perang Ma’ekat akan diperagakan pada saat diadakan festival rakyat.

Dari sini perjalanan masih bisa dilanjutkan ke Istana Raja Amanuban di Niki- Niki, 27 km arah timur kota SoE. Pesona sejarah kebesaran masa lalu masih dapat Anda nikmati berupa Istana Raja Nope dan kompleks pekuburan raja Nope.

Sumber :
http://hansitta.inilahkita.com/2009/11/09/melancong-ke-timor-tengah-selatan/

Sumber Gambar:
http://nttprov.go.id/provntt/index.php?option=com_content&task=view&id=43&Itemid=47

Tidak ada komentar:

Posting Komentar