Kamis, 10 Februari 2011

Kabupaten Belu

1. Letak Geografis & Administrasi


Kabupaten Belu



Kabupaten Belu terletak pada koordinat 124″35’ –126″12’ Bujur Timur dan 8″57’ – 9″49’ Lintang Selatan. Secara geografis batas-batas wilayah Kabupaten Belu adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Selat Ombay
Sebelah Selatan : Laut Timor
Sebelah Barat : Kabupaten TTU dan TTS
Sebelah Timur : Negara Republic Democtratic Timor Leste (RDTL)

Luas administratif Kabupaten Belu adalah 2.445,57 Km2 dan menurut data Bagian Pemerintahan Desa Kantor Bupati Belu hingga tahun 2005, Kabupaten Belu terdiri atas 17 wilayah administratif Kecamatan dan 207 wilayah Desa/Kelurahan, 25 Desa diantaranya masih Desa Persiapan dan 1 Desa UPT (Transmigrasi).
Ke-17 wilayah Kecamatan tersebut merupakan hasil pemekaran wilayah tahun 2004, dimana pada masa sebelum itu wilayah Kabupaten Belu hanya terdiri dari 12 wilayah Kecamatan dan 166 Desa/Kelurahan. Ke-5 tambahan wilayah kecamatan hasil pemekaran tersebut adalah Kecamatan Wewiku dan Kecamatan Weliman hasil pemekaran dari Kecamatan Malaka Barat; Kecamatan Lasiolat hasil pemekaran dari Kecamatan Tasifeto Timur; serta Kecamatan Raimanuk dan Kecamatan Laenmanen hasil pemekaran dari Kecamatan Malaka Timur.



Pembagian administrasi Kabupaten Belu dapat dilihat berikut ini :

Kecamatan Malaka Barat
Kecamatan Malaka Tengah
Kecamatan Wewiku
Kecamatan Weliman
Kecamatan Raimanuk
Kecamatan Sasitamean
Kecamatan Laenmanen
Kecamatan Kobalima
Kecamatan Tasifeto Barat
Kecamatan Tasifeto Timur
Kecamatan Rinhat
Kecamatan Raihat
Kecamatan Kota Atambua
Kecamatan Kakuluk Mesak
Kecamatan Lamaken
Kecamatan Lasiolat
Kecamatan Malaka Timur

2. Klimatologi

Secara umum Kabupaten Belu beriklim kering (semiarid), dengan musim hujan yang sangat pendek dengan temperatur udara berkisar 21,5 0 – 33,7 0 C dan temperatur udara rata-rata sekitar 27,6 0C. Temperatur udara tertinggi 33,7 0C terjadi pada Bulan Nopember, sedangkan temperatur udara terendah 21,50 terjadi Bulan Agustus.
Biasanya hujan turun antara Bulan Desember sampai Bulan Maret, sedangkan kemarau berlangsung antara Bulan April sampai Bulan November. Curah hujan di Kabupaten Belu tahun 2005 sebesar 10.903 mm, dengan angka rata-rata curah hujan untuk setiap stasiun sebesar 727 mm. Rata-rata hari hujan 40 hari/tahun, stasiun Haekesak (Raihat) mencatat jumlah hari hujan terbesar, yaitu 97 hari hujan sedangkan terendah di tercatat di stasiun Wemasa (Kobalima) sebesar 19 hari hujan.

3. Topografi

Keadaan topografi Kabupaten Belu dapat dikelompokan atas beberapa kelompok berdasarkan ketinggian tempat diatas permukaan laut. Keadaan topografi Kabupaten Belu dirinci seperti berikut di bawah ini :
Ketinggian 0 – 230 m dpl seluas 98,349 Ha (40,12 %)
Ketinggian 230 – 500 m dpl seluas 95,958 Ha (39,12 %)
Ketinggian 500 – 750 m dpl seluas 30,710 Ha (12,56 %)
Ketinggian 750 – 1000 m dpl seluas 17,240 Ha (7,03 %)

4. Karakteristik Tanah

Wilayah Kabupaten Belu terbentuk oleh 4 jenis tanah antara lain tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di bagian selatan wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah Litosol yang memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai sedang dan tersebar di seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran Mediteran, Renzina dan Litosol yang bersifat porous tersebar di wilayah Kecamatan Malaka Tengah.

Kondisi fisik tanah di Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari :
Kedalaman Efektif Tanah
0 – 30 cm seluas 21.191 Ha (8,67%)
30 – 60 cm seluas 28.204 Ha (11,53%)
60 – 90 cm seluas 3.840 Ha (1,57%)
90 cm seluas 191.322 Ha (78,23%)

Tekstur Tanah
Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1,88%)
Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84,79%)
Tekstur kasar seluas 32.597 Ha (13,33%)

Drainase
Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95,53%)
Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2,78%)
Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1,69%)

Erositas
Tidak erosi seluas 171.245 Ha (70,02%)
Ada erosi seluas 73.312 Ha (29,98%)

5. Hidrologi

Air tanah yang ada terdiri dari air tanah bebas dan air tanah tertekan. Air tanah bebas umumnya dangkal dan mengikuti kondisi morfologinya, sedangkan air tanah tertekan terletak jauh di dalam tanah dengan lapisan kedap air. Pada setiap kecamatan di Kabupaten Belu banyak dijumpai air tanah tertekan. Sedangkan air tanah bebas umumnya terdapat didaratan dekat pantai pada endapan alluvial dan dekat dengan permukaan tanah.

Sumber :
http://www.petantt.com/kabupaten-belu/

Sumber Gambar :
http://www.atambua-ntt.go.id/peta.htm
http://nttprov.go.id/provntt/index.php?option=com_content&task=view&id=65&Itemid=63

Tidak ada komentar:

Posting Komentar