Kamis, 10 Februari 2011

Ende

Wilayah Kabupaten Ende terletak di bagian Tengah Pulau Flores dengan batas-batas di sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores, sebelah Selatan barbatasan dengan Laut Sawu, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sikka dan di sebelah Barat berbatasan dengan kabupaten Ngada. Wilayah Kabupaten Ende mempunyai luas sebesar 2.046,60 km3, yang terdiri dari 16 kecamatan, 165 desa dan 20 kelurahan.


Ende adalah kota yang menyenangkan dengan panorama bukit yang mengelilingi Kota. Terletak di kawasan pantai Flores bagian Tengah, penduduknya memiliki ciri campuran antara orang Melayu dan Melanesia. Ende berada di bagian semenanjung yang menjorok ke laut Pelabuhan tua dan sebagaian besar pertokoan terdapat di sisi Barat kota sedangkan pelabuhan utama Ende terdapat di sebelah Timur.


Pada kawasan perbukitan yang mengelilingi Ende terdapat Gunung Meja (661 m) yang berada berdekatan dengan bandara, sementara gunung yang lebih besar Gunung Iya berada di sebelah Selatannya. Pada bulan Desember tahun 1992 sebuah gempa bumi menghancurkan Ende namun saat ini Ende telah kembali normal. Ende memiliki cuaca panas dan berdebu khususnya pada saat akhir musim kering.

Bumi Kabupaten Ende yang berbukit-bukit menyimpan keindahan luar biasa. Di sinilah terdapat Gunung Kelimutu, di kawasan Taman Nasional Kelimutu. Terdapat pula Danau Kelimutu atau disebut juga dengan Danau Tiga Warna. Bahkan, danau ini oleh dunia disebut sebagai salah satu dari sembilan keajaiban dunia. Awal mulanya daerah ini diketemukan oleh Van Such Telen, warga negara Belanda, tahun 1915.

Keindahannya dikenal luas setelah Y. Bouman melukiskan dalam tulisannya tahun 1929. Sejak saat itu wisatawan asing mulai datang menikmati danau yang dikenal angker bagi masyarakat setempat.

Mereka yang datang bukan hanya pencinta keindahan, tetapi juga para peneliti yang ingin tahu kejadian alam yang amat langka ini. Kawasan Kelimutu telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.

Gunung Kelimutu adalah Gunung yang memiliki tinggi 1.640 meter di atas permukaan laut, memiliki tiga buah kepundan di puncaknya yang disebut Danau Kelimutu. Ketiga danau Kelimutu ini memiliki warna air yang berbeda-beda dan berubah tiap saat. Dan warna merah menjadi hijau tua kemudian merah hati. Kadang menjadi warna cokelat kehitaman dan biru.

Gunung Kelimutu meletus terakhir pada 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang airnya berwarna merah (tiuw ata polo), biru (tiwu ko'o fai nuwa muri), dan putih (tiwu ata bupu). Ketiga warna ini mulai berubah sejak 1969 saat meletusnya Gunung Iya di Ende, dan perubahan warna itu pernah serupa.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, danau dengan air warna merah merupakan tempat berkumpulnya para arwah orang jahat. Danau biru untuk para pemuda-pemudi, dan danau putih untuk orang tua. Para arwah diyakini akan bermukim di ketiga danau itu sesuai status sosialnya.

Dalam perjalanan menuju Kelimutu, wisatawan bisa menikmati pemandangan flora dan fauna yang jarang dijumpai di tempat lain seperti cemara gunung, kayu merah, edelweis, landak, babi hutan, tikus besar dan burung gerugiwa.

Pemandangan menakjubkan juga dapat dilihat seperti kegiatan solfatara yang terus mengepulkan uap dan dinding kawah yang berwarna kuning. Bila melemparkan pandangan ke bagian Timur saat mencapai puncak danau berwarna merah, sebuah bukit terlihat menjulang berbentuk bundar. Itulah Buu Ria, lokasi paling tinggi di Gunung Kelimutu.

Obyek wisata Kelimutu sangat mudah di jangkau dan sedikitnya ada empat alternatif rute perjalanan ke Taman Nasional ini. Menuju Kelimutu dapat di tempuh melalui Moni, Flores, melalui Labuan Bajo dan melalui Maumere. Dari Maumere melewati pantai Utara pulau Flores yang terkenal dengan pasir putih dan alam lautnya.

Alternatif lainnya dari Maumere ke Wolowaru melalui desa-desa tradisional dengan rumah adat, bangunan megalitik, kerajinan tenun, tarian tradisional dan peninggalan purbakala seperti di Mbuli Lo'o, Ranggase, Jopu, Tenda, Wolojita, Wiwipemo, Nuamulu, Ngela dan Lisedetu.

Kawasan pasar Ende yang berada di depan laut juga menarik untuk dikunjungi. Pasar yang semarak ini ramai dikunjungi masyarakat untuk membeli buah-buahan, makanan, teh dan pakaian. Tempat penjualan kain tenun ikat dari Flores dan Sumba dapat ditemui di pasar ikat di sudut Jl. Pabean dan Jl. Pasar.

Setelah puas menikmati keindahan panorama Danau Kelimutu, wisatawan bisa singgah di rumah bekas pengasingan proklamator RI Soekarno di jantung Kota Ende. Di sini tersimpan barang-barang milik Bung Karno ketika menjalani masa pengasingan selama empat tahun di Ende. Rumah di Jalan Perwira, Kota Ende, itu tampak seperti layaknya permukiman penduduk karena konstruksinya menyerupai permukiman di sampingnya.

Hal yang membedakannya adalah sebuah papan nama bertuliskan Situs, Bekas Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende' yang terpampang di halaman depan. Di rumah berukuran 12 x 9 meter ini, mantan Presiden Republik Indonesia Soekarno (Bung Karno) menjalani masa pengasingan oleh kolonial Belanda selama empat tahun (1934-1938).

Bung Karno diasingkan sejak 14 Januari 1934 bersama istrinya, Inggit Garnasih, mertuanya, Ibu Amsih dan anak angkatnya, Ratna Juami; serta guru anak angkatnya, Asmara Hadi.

Dalam berbagai catatan yang mengupas tentang masa pengasingan Bung Karno di Ende, Pulau Flores, NTT, salah satu yang paling diminati musyarakat adalah buku berjudul Bung Karno, Ilham dari Flores untuk Nusantara.

Buku ini menceritakan perenungan Bung Karno di bawah sebuah pohon sukun bercabang lima yang melahirkan gagasan lima butir Pancasila. Kelima butir Pancasila secara resmi diumumkan Bung Karno pada 1 Juni 1945 di depan sidang Dokoritsu Zyumbi Tyoosakai.

Rumah Soekarno dan pohon sukun menjadi dua saksi sejarah yang berada di jantung Kota Ende yang tetap dipelihara dengan baik sampai sekarang. Di kalangan masyarakat Ende, rumah pengasingan Bung Karno ini dianggap sakral.

Wisatawan yang berada di Ende dapat juga Museum Bahari yang dibangun dengan koleksi antara lain biodata laut. Museum ini buka setiap hari dan di sebelahnya terdapat Museum Rumah Adat yang berbentuk rumah adat berukuran besar.

DI depannya terdapat bangunan bergaya desa adat yang dilengkapi altar persembahan. Rumah tradisional masyarakat Ende yang berada di atas tiang dapat ditemui di Woloropo yang terletak sekitar 8 km di Timur Ende.

Moni adalah sebuah desa yang cantik dengan udara pegunungan yang sejuk dan tempat yang menyenangkan untuk berjalan-jalan. Desa ini merupakan pintu gerbang bagi wisatawan yang akan menuju ke Kelimutu. Wilayah desa Moni yang berada dijalur jalan Ende-Maumere merupakan pusat dari wilayah Lio yang meliputi kawasan mulai dari Timur Ende hingga ke Wolowaru.

Beberapa desa di sekitar Moni merupakan sentra kerajinan kain tenun ikat antara lain di desa Wolowaru yang berada di jalan raya yang menuju ke Maumere. Desa yang terletak sekitar 13 km di Tenggara Moni ini dapat menjadi titik awal perjalanan menuju ke beberapa desa lainnya yang juga menjadi sentra kerajinan tenun ikat seperti Jopu, Wolojita dan Nggela.

Produksi kain tenun ikat di Nggela dikerjakan dengan tangan dan menggunakan celupan pewarna alami. Hasil kain tenun dari Nggela merupakan salah satu yang terbaik di Flores. Di Nggela, wisatawan dapat langsung menyaksikan penduduk setempat membuat kain tenun ikat.

Ende juga menjadi sentral kerajinan tenun ikat yang memiliki gaya tersendiri dan pada umumnya memiliki motif-motif abstrak. Salah satu desa penghasil tenun ikat adalah Ndona yang berada 8 km di Timur Ende yang dapat dicapai dengan menumpang angkutan umum dari Ende.

Boawe terletak sekitar 41 km dari Bajawa; di jalan raya yang menuju ke Ende. Wilayah yang berada di kaki Gunung Ebulobo ini merupakan pusat pemukiman orang Nagekeo, Boawe juga dikenal sebagai pusat kerajinan tenun ikat.

Pengunjung dapat mendaki Gunung Ebulobo dengan ditemani pemandu yang dapat ditemui di Boawe. Gunung Ebulobo adalah gunung aktif yang masih mengeluarkan asap dari puncak kawahnya. Kegiatan pendakian di gunung ini termasuk menginap di lerengnya dan dilanjutkan dengan perjalanan ke puncak pada keesokan harinya.



Sumber :
Buku Informasi Pariwisata Nusantara Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, dalam :
http://fatawisata.com/nusa-tenggara-timur/1150-ende 

Sumber Gambar:
http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_kelimutu.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar