Jumat, 11 Februari 2011

Kabupaten Timor Tengah Utara Kaya Potensi Pariwisata Minim Promosi

Laporan Silnusa, Ako Uskono, Zeth Besie. Ditulis oleh Alex

Kefamenanu, NTT Online - Timor Tengah Utara (TTU) memiliki keaneka-ragaman sumber daya alam maupun sumber daya budaya. Potensi ini dapat ditumbuh kembangkan untuk pembangunan kepariwisataan daerah guna peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tapi, mengapa dibiarkan tertidur


Kabupaten TTU merupakan salah satu Kabupaten dari 20 Kabuaten/Kota yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan ibukotanya Kefamenanu. Letaknya di tengah Pulau Timor, bagian utara yang berbatasan langsung dengan wilayah Ambenu, Daerah Enklave Republic Demokratik Timot Leste (RDTL).



Di Kabupten ini memiliki beraneka ragam kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya budaya, yang dapat ditumbuh kembangkan untuk pembangunan kepariwisataan daerah dan untuk mewujudkannya, diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas, profesional, kreatif, inisiatif dan inovatif disertai perencanaan dan program rill serta terpadu.


Seluruh potensi aneka kekayaan alam, budaya dan religius serta sejumlah daya dukung kepariwisataan di TTU seakan sedag merentang tawa, mengulas senyum untuk didatangi, dikunjungi bahkan untuk berinvestasi di sub sektor pariwisata.

Luas wilayah Kabupaten TTU adalah 2.669,70 Km atau 266,970 Ha. Dari segi astronomis, daerah ini terbentang antara 124 04’02’ sampai 24 46’00” Bujur Timur; dan antara 9 02’48” sampai 9 37’36” Lintang Selatan. Sebelah Utara berbatasan dengan Ambenu (daerah Enclave RDTL), Selatan dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan; Timur dengan Kabupaten Belu dan Barat dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kupang.

Dari aspek klimatologi, suhu udara di Kabupaten ini sangat bervariasi tergantung curah hujan setiap tahun.Keadaan curah hujan yang tidak menentu sangat berpengaruh terhadap pergantian musim serta aktivitas manusia.

Faktor-faktor penyebabnya antara lain topografi wilayah yang bergunung-gunung, berbukit-bukit, diselang-selingi dataran-dataran rendah dan padang-padang sabana. Faktor lain, barangkali kondisi lingkungan hidup khususnya dunia flora/ vegetasi yang tidak seimbang, turut menentukan variabilitas iklim tersebut.

Dari aspek kependudukan. berbagai tradisi lisan dan tulisan sejarah serta laporan etnografis, penduduk di Kabupaten TTU menunjukkan hasil pembauran berbagai ras dan kelompok etnis yang berlangsung sejak awal mula. Ada penduduk asli (Melenesia), penduduk migran (Austronesia dan deutro Malayu), penduduk keturunan campuran (Topasses), para pedagang dan sebagainya.

Pembauran ini berlangsung demikian lama berabad-abad lampau dan tanpa terasa telah membentuk penduduk di kabupaten ini. Walau demikian, di antara banyak kesamaan, terdapat pula perbedaan-perbedaan di antara penduduk terutama di tiga wilayah besar dalam Kabupaten TTU (Biboki, Insana, Miomaffo). Dan untuk menelusurinya kembali, diperlukan studi-studi historiografi dan etnografis yang intensif.

Ditinjau dari bahasa daerah, penduduk di TTU sehari-harinya menggunakan Bahasa Dawan Atoni, yang lazimnya disebut Laes Meto, Uab Meto atau Molok Meto. Pemakaian bahsa ini cukup umum, namun ada pula perbedaan-perbedaan ciri khas etnis Biboki, Insana dan Miomaffo, maka dari pemakaian bahasa ini nampaknya ciri khas pembedanya berupa dialek/ logat: Miomaffo Barat, Miomaffo Timur, Noemuti, Insana, dan Biboki. Dengan kata lain dari pengucapan kata-kata, kita dapat membedakan identitas etnis seseorang.

Dalam kehidupan sehari-hari, selain laes meto, uab meto, atau molok meto ini, sebagian besar masyarakat juga menggunakan alat bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dengan sesama manusia, sebagai bahasa nasional.

Sosial Budaya

Masih terlestarinya berbagai potensi wisata budaya dan religius serta wisata alam, dibenarkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadis Budpar) Kabupaten TTU, Wilybrodus Apaut.

Kepada NTT Online di ruang kerjanya, Sabtu (23/05/09) lalu, Kadis Budpar TTU, Wilybrodus Apaut menjelaskan, manusia dikenal dan dipahami dari kebudayaannya. Segala tutur kata dan perilakunya adalah ekspresi-ekspresi pola dan tingkat budaya yang dihayatinya.

Sebagai makluk rasional, Atoin meto di Kabupaten Timr Tengah Utara memiliki wujud fisik/ material kebudayaan seperti; rumah, peralatan/ perlengkapan hidup, senjata, rumah dan sebagainya.

Sistem nilai budaya diekspresikan melalui pranata-pranata; (1) Pranata Kekerabatan; (2) Pranata Ekonomis; (3) Pranata Pendidikan; (4) Pranata Politis; (5) Pranata Seni; (6) Pranata Keagamaan; (7) Pranata Jasmani; (8) Pranata Ilmiah (sistem Kearifan lokal).

Sumber semua wujud kebudayaan di atas, jelas Wilybrodus Apaut, adalah ide atau gagasan, adat istiadat, norma-norma dan nilai-nilai sebagai landasan filosofis, etis dan moral kebudayaan Atoin meto di Kabupaten Timor Tengah Utara.

Maka eksistensi Atoin Timor dan realitas kebudayaannya dapat dirangkum dalam pikiran bahwa ia lahir dari methologi, dari methologi ia menciptakan simbol-simbol yang membahasakan atau mengungkapkan makna seluruh realitas masa lampau.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia berperilaku dalam tindakan-tindakan simbolis yang mengaktualisasikan relasinya dengan masa lampau demi arti dan makna sebuah kehidupan.

Realitas sosial menunjukkan bahwa kehidupannya di dalam masyarakat tersusun dalam struktur-struktur. Ada pemimpin; pembantu pimpinan dan bawahan (rakyat). Relasinya dengan sesama manusia dilihat dalam kerangka hubunga kekerabatannya yang berpengaruh kuat pada pranata lainnya.

Agama dan Kepercayaan Asli

Menurut data statistik, jelas Wilybrodus Apaut, mayoritas penduduk di Kabupaten Timor Tengah Utara menganut Agama Katolik, Kristen Protestan, Islam, Hindu dan Buddha. Namun dalm kenyatan, agama Katolik misalnya masih terus diberangi system kepercayaan asli tehadap usi neon (Wujud Tertinggi); Arwah nenek Moyang; Dewi Bumi dan Dewa Air serta adanya Roh-roh Halus.

Sistem kepercayaan asli inilah, jelas Kadis Wilybrodus Apaut, yang mewarnai segala perilaku dan tindakan ritual sepanjang fase kehidupan (lahir, kawin, mati) dan aktifitas-aktifitas ekonomisnya (upacara-upacara ritual menurut kalender pertanian).

Dunia kehidupan Atoin Meto, jelas Kadis Budpar, terdiri dari dunia fana dan dunia baka. Karena itu ada juga kepercayaan akan hidup sesudah kematin, dimaksudkan agar arwah orang mati dapat hidup layak di dunia para arwah di alam baka.

Pemerintahan

Kabuapten Timor Tengah Utara meliputi tiga wilayah yakni Biboki, Insana, dan Miomaffo (bekas-bekas swapraja di Jaman belanda). Di jaman pemerintahan sekarang, terdapat 24 kecamatan, 143 desa dan 31 kelurahan.

Kefamenanu adalah Ibu Kota Kabupaten Timor tengah Utara, tentu menjadi pula pusaat pertumbuhan dan perkembangan pembangunan dari multi aspek. Mulai dari aspek pemerintahan, pendidikan, pos dan telekomunikasi, ekonomi, pertahanan dan keamanan, agama, infrastruktur dan transportasisampai kebudayaan dan pariwisata.

Dengan kata lain, kefamenanu juga menjadi pusat pelayanan publik yang menjangkau seluruh aspek kehidupan sosial. Berkaitan dengan itu, jika TTU sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Propinsi Nusa Tenggara Timur, sudah pasti kefamenanu menjadi destinasi utamanya.

Walaupun demikian, jika diterawang dari karakter layanan wisatanya, Kefamenanu pada level lokal dan regional lebih tepat dijadikan sebagai tempat wisata MICE (Meeting, Insentive, Converence and Exhibition).

Hal itu dimungkinkan oleh kelengkapan berbagai prasarana dan sarana (jaringan jalan, listrik, telepon dan Air), tersedianya aneka usaha jasa layanan wisata (Biro Perjalanan, Hotel, Restaurant dan Balai Konvensi) dan didukung pula oleh kelengkapan fasilitas publik yang memadai (Bank, Money Changer, Kantor Post, Pasar, Terminal, Pusat Pertokoan, Rumah Sakit, Pos Polisi, Universitas dan sebainya).

Potensi Wisata

Ada beraneka ragam potensi objek wisata di Kabupaten Timur Tengah Utara. Banyaknya obyek atau potensi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten TTU membentuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) pada tahun 2001 untuk menyelenggarakan kegiatan pelestarian, promosi dan pengembangannya.

Wilybrodus Apaut mengemukakan, setelah terbentuknya Dinas Budpar, ada dua hal pokok yang menjadi pilar utama yang harus dilakukan. Pertama, aspek kebudayaan. Kebudayaan bisa menjadi menarik kalau dilestarikan dan dibina serta dipasarkan. Kedua, aspek kepariwisataan. Kebudayaan akan menjadi menarik bila dinikmati oleh banyak orang.

Kebudayaan tidak hanya menjadi ritus yang seremonial belaka tetapi bisa lebih dari itu yakni menjadi suatu daya tarik tersendiri bagi umat manusia.

Agar kebudayaan bisa menjadi salah satu aset pariwisata yang menarik, jelas Kadis Budpar TTU, pihaknya ke depan akan bekerja sama dengan media cetak dan elektronik guna pemasaran atau promosi.

Wilybrodus Apaut juga tak mengelak kalau dibilang pariwisata TTU terlihat mati suri. Penilaian semacam itu, menurutnya, adalah suatu kenyataan. Untuk menghidupkan dan mengembangkannya butuh partisipasi semua pihak dan butuh dukungan media cetak.

“Kami butuh sumbangan pemikiran dari teman-teman media cetak dalam hal promosi dan pengembangan pariwisata di daerah, “ujar Wilybrodus Apaut.

Berbicara tentang keanekaragaman potensi pariwisata, jelas Kadis Bupdar TTU, pihaknya telah mengelompokannya berdasarkan jenis antara lain objek wisata alam dan objek wisata religius, objek wisata tantangan dan objek wisata minat khusus.

Di samping itu, ada objek wisata alam seperti panorama alam berupa air tarjun, gua-gua, kawasan pegunungan hutan dan berbagai jenis tumbuhan dan dunia fauna yang penuh mempesona, menjanjikan satu kunjungan ilmiah yang tak pernah habis.

Perkampungan tradisional, rumah-rumah adat, barang-barang peninggalan historis dan sebagainya adalah situs dan benda cagar budaya yang tak terkira nilainya.

Sepanjang tahun, jelas Wilybrodus Apaut perayaan upacara-upacara adat, atraksi-atraksi seni budaya, pengelaran pacuan kuda dan berbagai perlombaan olah raga tradisional adalah festival-festival yang sangat mengagumkan penuh pesona hiburan yang tak terlupakan.

Semuanya sangat resprentif dan mulai terkenal yang membutuhkan polesan untuk pengembangan dan pemasarannya.

Dana Terbatas

Kepala Bidang (Kabid) Kepariwisataan Dinas Budpar TTU, Drs. Hendrikus Saunoah, M.Hum, mengatakan, persoalan utama yang dihadapi Dinas Budpar TTU adalah tebatasnya dana. Akibat terbatasnya dana, membuat pihaknya tak bisa bekerja maksimal. Selama ini, Dinas Budpar hanya bisa melakukan pendataan atau inventarisasi objek wisata.

Persoalan lainnya adalah Pemda TTU menjadikan Dinas Budpar bukan sebagai leading sector tetapi hanya sebagai dinas penunjang saja. Namun, walaupun keadaannya seperti itu, kata Kabid Kepariwisataan, pihaknya tak pernah mengenal kata mundur, tetapi akan tetap berusaha.

“Kami sudah lakukan pendataan aset. Saat mau melakukan penataan, kami tak ada dana. Tapi kami sudah memulainya dengan penulisan Buku Dari Noetoko Ke Kefamenanu yang terbit pada tahun 2005 dengan oplah 1000 eksemplar, dan Buku tentang Lopo yang terbit tahun 2006 dengan oplah 1000 eksemplar, “ujarnya.

Selain buku, jelas Hendrik Saunoah, Dinas Budpar TTU juga mencetak leaflet tentang Upacara Kurek di Noemuti. Buku dan leaflet sudah disebarkan ke Dinas Budpar Propinsi NTT, Badan Perpustakaan Negara di Kupang, Kantor Perpustakaan Negara di Pusat dan Kementerian Budpar RI di Jakarta.

Ke depan, kata Kabid Kepariwisataan, pihaknya akan memperindah objek wisata dengan sarana dan prasarana pendukung. Selama ini, di setiap objek tak dilengkapi dengan sarana pendukung pariwisata. Selain itu, pihaknya juga akan mendirikan pusat-pusat souvenir sebagai cinderamata bagi wisatawan yang datang berkunjung.

Agenda lain ke depam, kata Hendrik Saunoah, Dinas Budpar akan menyelenggarakan event tahunan seperti di bidang pertanian ada upacara memasuki kebun, tanam hingga panen. Ada pesta panen, injak padi, ikat jagung atau budaya bertani.

Hendrik Saunoah, menambahkan, selama ini yang menjadi andalan wisata di TTU ada tiga yakni Tanjung Bastian, Pengembangan Kota Terpadu atau Kota Satelit di Wini dan Kolam Oeluan sebagai tempat pemandian. Objek wisata Tanjung Bastian mempunyai nilai lebih karena berada di perbatasan dekat dengan Kota Satelit di Wini dan masuk dalam wilayah pengembangan kota terpadu (KTM).

“Begitu orang masuk ke Kota Satelit langsung bisa melihat Tanjung Bastian," ujarnya.

Ditambahkannya, untuk mendukung pengembangan Tanjung Bastian, pemerintah sudah membuat tata ruang. Ke depan, tinggal mengisi ruang-ruang di Tanjung Bastian. Untuk mengisinya, jelas Hendrik, Dinas Budpar tak bisa hanya mengandalkan APBD Kabupaten TTU tetapi membutuhkan dukungan DAK atau Dana Alokasi Khusus dan APBN.

Menjadikan Oeluan Sebagai Agrowisata

Selama ini, Kolam Oeluan hanya difungsikan sebagai tempat pemandian saja. Setiap hari libur, banyak orang yang berekreasi wi tempat ini sekedar untuk mandi. Selama ini, Kolam Oeluan sangat ramai dikunjungi warga Kota Kefamenanu. Selain mandi, para pengunjung umumnya memanfaatkan waktu dengan menikmati sejuknya pepohonan karena di tempat itu ada hutan yang kaya akan faunanya.

“Yang perlu dikembangkan ke depan adalah bagaimana menjadikan Sumber Oeluan sebagai Agrowisata. Di sekitar Oeluan harus dikembangkan pertanian atau perkebunan untuk mendukung objek tersebut, “ujar Kadis Budpar TTU, Wilybrodus Apaut, S.Sos, M.AP.

Kepada media ini, Kadis Budpar, menjelaskan, selain pengembangan tanaman pangan dan perkebunan, di sekitar Oeluan juga berpotensi untuk menjadikan daerah itu sebagai industri gerabah. Alasannya, tanah di Oeluan adalah tanah merah yang bisa dijadikan sebagai bahan baku pembuatan gerabah.

Kadis Budpar TTU mengatakan, untuk mendorong pengembangan pariwisata di TTU, pihaknya terus melakukan kampanye sadar wisata kepada masyarakat.

“Dengan terbentuknya Dinas Pariwisata ini menunjukan suatu bukti bahwa daerah ini sudah mempunyai suatu cita-cita sehingga prospek pariwisata TTU ke depan akan semakin lebih bagus, “ujarnya.

Selama ini, Dinas Budpar disebut sebagai instansi penunjang karena dilakukan secara alami atau swadaya masyarakat. Ke depan, kata dia, untuk menggairahkan kunjungan wisatawan, pihaknya akan mendorong sektor jasa perhotelan, restaurant dan biro perjalanan untuk meningkatkan pelayanannya dan akan mengklasifikasikan jenis hotel di TTU.

“Kami akan beri pelatihan peningkatan standar mutu layanan hotel dan restaurant, “ujarnya.

Sementara itu, untuk mendorong sektor pariwisata, Dinas Budpar akan terus membina 60-an sanggar budaya dan akan memberikan pelatihan sanggar seni budaya dan akan diberikan pendampingan dan pembinaannya. Selain itu, Dinas Budpar TTU juga akan memberdayakan dan membentuk kelompok sadar wisata (KSW) pada setiap objek wisata.

Tak ada promosi, pariwisata TTU mati suri

Pembangunan pariwisata di Kabupaten TTU tidak berjalan alias berjalan di tempat atau mati suri. Ini terjadi oleh karena tidak ada promosi dan kerja sama dengan media cetak dan elektronik. Demikian penilaian salah seorang Pengusaha Hotel Cendana di Kefamenanu, Alberth Angi.

Kepada wartawan di Hotel Cendana Sabtu (23/5/09) lalu, Alberth Angi, menyatakan keprihatinannya atas ketidak-seriusan pemerintah membangun keopariwisataan TTU.

“Saya kasih contoh, Kolam Oeluan itu Tirta Oeluan yang kerja baru diserahkan ke Pemda tetapi pengelolaannya tidak berjalan. Sekarang Pemda bangun lagi kolam renang di Taekas tetapi juga tidak berjalan. Ini yang saya namakan pariwisata TTU mati suri atau tidak berjalan karena tidak ada promosi, “ujarnya.

Alberth Angi, mengatakan, setiap objek wisata yang dibangun seharusnya dikelola secara profesional karena proses pembangunannya sudah mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Di tempat pemandian Oeluan misalnya, alangkah bagusnya ada sanggar-sanggar tenun adat dan kalau ada acara bisa digelar di Oeluan.

“Selama ini orang hanya pergi mandi langsung pulang, tak ada hiburan di sana. Di sana harus ada acara rutin untuk memancing orang berkunjung ke Oeluan,” ujarnya.

Alberth Angi menambahkan, hingga saat ini, pemerintah juga belum pernah memberikan pendidikan dan pelatihan tentang pelayanan perhotelan dan restaurant bagi para pegawai hotel agar bisa melayani tamu secara baik.

Alberth Angi berharap, ke depan, pemerintah harus melibatkan para pengusaha dalam pembangunan pariwisata seperti di Flores. Dimana, pengusaha sangat aktif dalam mendorong majunya pariwisata di daerah.

“Kenapa di Flores bisa, koq kita di Kefa tidak bisa? Pemerintah harus libatkan para pengusaha, “ujarnya.

Selanjutnya, dalam hal mendorong percepatan pembangunan pariwisata, pemerintah tidak boleh mempersulit sistem perijinan. Pemerintah harus bisa menjemput bola. Kalau ada perusahaan yang ijinnya sudah mati, pada saat turun lapangan langsung memperbaharui ijin operasionalnya.

Dengan terlibatnya para pengusaha jasa perhotelan ran restaurant, jelas Alberth Angi, maka akan menggerakan sektor riil sehingga akan terjadi pertumbuhan dan pengembangan ekonomi lokal.

Saat ini diakuinya, banyak investor yang sudah ke Kefamenanu dan sudah berinvestasi milyaran rupiah. Hal itu diketahuinya karena banyak investor yang menginap di Hotel Cendana miliknya. Dari komunikasi yang dibangun, diketahui ada banyak pengusaha atau investor yang mau berinvestasi di TTU tetapi masih terbentur dengan kendala sarana dan prasarana pendukung.

“Saat ini yang perlu dilakukan adalah penataan objek saja. Pemerintah juga perlu memberikan motivasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengelolaan objek wisata dan sanggar seni. Karena itu akan mendatangkan pendapatan bagi masyarakat. Pendapatan yang diperoleh bisa membiayai pendidikan anak-anak, “ujarnya.

Suatu hal yang juga perlu diperhatikan adalah masalah penempatan pegawai di Dinas Budpar. Para pegawai yang ditempatkan agar tidak sekedar memenuhi persyaratan kepangkatan tetapi harus punya jiwa kepariwisataan. “Jangan menempatkan tukang besi ke Dinas Pariwisata nanti dia tidak bisa bekerja,“ujar Alberth Angi mengeritik.

Harus punya kemauan

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten TTU melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata TTU, belum pernah mengajak kalangan akademisi dari Perguruan Tinggi (PT) Univesritas Timor (Unimor) untuk membicarakan masalah kepariwisataan TTU.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unimor, Salesius Vitalis Olne, S.Sos, mengatakan, kehadiran PT di daerah seharusnya dipandang sebagai modal utama pengembangan sumber daya manusia termasuk di bidang kepariwisataan. Dengan demikian, perguruan tinggi akan terlibat secara langsung dalam penyusunan program pembangunan pariwisata.

Namun, hal ini bukan menjadi kendala utama. Yang terpenting adalah bagaimana merubah pola pikir atau cara pandang masyarakat tentang pentingnya pariwisata. Ini yang butuh proses.

Kepada wartawan di kediamannya Benpasi Kefamenanu, Sabtu (23/5/09) lalu, Dekan Fisip Unimor, Salesius Vitalis Olne, S.Sos, mencontohkan, pengelolaan objek wisata Oeluan hingga saat ini masih sebatas sebagai tempat pemandian dan itu pun hanya dilakukan oleh anak-anak saja, sementara masyarakat umum tidak memanfaatkan jasa objek tersebut untuk mandi.

“Orang TTU itu sangat merasa jijik untuk mandi bersama di kolam. Kalau mandi biasanya pakai kain dari atas sampai di bawah. Jadi, yang perlu dipikirkan adalah merubah cara pandang atau pola pikirnya,” ujar Salesius Vitalis Olne.

Berbicara tentang pembangunan pariwisata, kata Dekan FISIP Unimor ini, tentunya berpulang pada kemauan pemerintah melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sesuai dengan visi dan misi instansi tersebut. “Jangan hanya sebatas buat program saja tetapi harus ada aksi nyata,” ujarnya.

Ada beberapa hal yang disampaikan Salesius Vitalis Olne, dalam rangka pengembangan pariwisata. Pertama, pola rekruitmen pegawai yang baru dan penempatan yang sudah ada perlu memperhatikan wawasan pariwisata. Jika Pemda berniat kembangkan wisata budaya, maka yang perlu diperhatikan pula adalah harus ada penerjemah di setiap objek wisata.

Di samping itu juga, perlu merekrut warga dari Sonaf untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kemudian menempatkan kembali PNS tersebut di objek wisata yang ada di Sonaf atau dekat Sonaf sehingga mengetahui secara persis objek wisata tersebut.

Kedua, di Tanjung Bastian, jangan hanya cuma objek pacuan kuda saja tetapi harus ada objek atau event yang rutin dilaksanakan di tempat itu sehingga bisa memancing orang berkunjung ke Tanjung Bastian. Dari aspek sosial, orang akan terbiasa berkunjung ke Tanjung Bastian pada hari-hari tertentu.

Salesius Vitalis Olne juga mengeritik usaha promosi pemda yang dilakukan sebatas membuat leaflet saja. Menurutnya, perlu ada promosi lewat media cetak dan elektronik serta pertukaran budaya.

Sumber :
http://www.nttonlinenews.com/ntt/index.php?option=com_content&view=article&id=3536:kabupaten-timor-tengah-utara-kaya-potensi-pariwisata-minim-promosi-&catid=40:pariwisata&Itemid=57
25 Mei 2009

Sumber Gambar:
http://www.atambua.kppn.net/?pilih=hal&id=21
http://www.nttonlinenews.com/ntt/index.php?option=com_content&view=article&id=3536:kabupaten-timor-tengah-utara-kaya-potensi-pariwisata-minim-promosi-&catid=40:pariwisata&Itemid=57
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Timor_Tengah_Utara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar